Kalau Kupon Berkuasa…

By pesisirselatan

Rebutan mendapatkan minyak gorengPAINAN-Ros (57) warga Painan Pessel sangat gembira sekali saat menenteng kantong kresek berwarna hitam. Kantong tadi berisi dua liter minyak goreng (Migor) subsidi didapat dengan cara menukarkan kupon di Kantor Wali Nagari Painan.

Kupon tadi ditukarkan dengan uang senilai Rp 15.000 (@ Rp 7.500 per liter). Wajah ceria tersebut melambangkan alangkah gembiranya Ros, ketika dia mendapatkan Migor bersubsidi yang selama ini menjadi harapannya dan sekarang menjadi kenyataan.

“Kini ambo saketek maraso lega sasudah mandapek Migor basubsidi ko, ambo baharok mudah-mudahan Migor basubsidi ko taruih balanjuik sampai hargo Migor stabil baliak”, harapnya.

Ungkapan tadi rasa pantas diungkapkan wanita paruh baya itu. Karena dipasaran harga minyak goreng non subsidi justru mencapai Rp 12.500 – 15.000 per liter.

Lain halnya yang dirasakan ujang (42) warga Painan Timur. Dirinya tidak mendapatkan kupon Migor bersubsidi. Sementara kalau dilihat dari kehidupannya, lelaki ini justru dirasa sangat pantas mendapatkan.

Tatapan kosong terlihat dari mata Ujang ketika menyaksikan petugas saat membagikan Migor kepada warga yang mendapat kupon Migor bersubsidi.
Sembari duduk termenung di pinggir jalan menghadap kekerumunan warga yang sedang mengambil jatah Migor bersubsidi, sesekali matanya melihat kearah kendaraan yang lalu lalang di depannya. Wajah penuh harapan pun terlihat diraut muka Ujang.

“Ambo ndak dapek jatah Migor basubsidi ko kini do. Antahlah. Kupon bana nan indak dapek, Ka dipangakan lai. Tapaso mancaliak sajo. Mano tau bisa dapek kalau urang alah langang. Tapi nampaknya indak parnah langang doh. Kalau dicaliak-caliak, indak urang bansaik sajo nan dapek. Ado nan pakai oto bagai nan manjapuik,” lirihnya.

Penuturan Ujang menunjukkan masih adanya ketidakakuratan oleh si pelaksana pendistribusian migor subsidi ke masyarakat. Kupon yang notabene ‘berkuasa’ dan menjadi alat untuk mendapatkan migor, justru terlihat ada ditangan orang yang (maaf) kurang pantas menerimanya.

Bapak dari 3 orang anak ini kesehariannya hanya bekerja sebagai pencari kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ujang tinggal di sebuah rumah yang jauh dari kelayakan. Itu pun hanya berupa tumpangan sementara dari  pemilik tanah—-kebetulan belum mempergunakan tanah tersebut dijadikan bangunan.

Dengan mata berkaca-kaca Ujang pun berangsur berlalu. Kapan ya bisa punya kupon dan mendapat jatah migor subsidi? Kalimat itu selalu memenuhi pikirannya dalam perjalanan pulang. Padahal, kendati tidak ada kupon, ia sudah menyiapkan uang Rp 15.000.

Uang tersebut sudah disiapkan semenjak malam. Berasal dari celengan sang anak yang dipecah. Semua dilakukan demi memperoleh minyak goreng murah dari pemerintah.(Diky Lesmana)

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.